Mahasiswa : Pilih Pragmatis atau Idealis?
Awal Minggu ini ada pemberitaan yang cukup hangat dibicarakan sebelum terjadinya banjir besar di Jakarta yaitu berita tentang demo BEM Universitas Indonesia yang memblokir Stasiun Pondok Cina, Depok. Demo tersebut untuk menggagalkan penggusuran para pedagang yang ada di Stasiun Pondok Cina, Depok oleh PT. KAI.
Para mahasiswa tersebut menolak penggusuran atas nama rakyat/pedagang kecil yang mempunyai hak untuk mencari rezeki disekitar/dalam stasiun, sementara PT. KAI hendak melaksanakan arahan Presiden, yaitu berupa Perpres No 85 dan UU No 23 Tahun 2011 tentang Peningkatan Mutu dan Pelayanan terhadap Penumpang Kereta. Hal itu dimaksudkan demi terciptanya rasa aman dan nyaman untuk meningkatkan jumlah pengguna kereta di tahun depan.
Selain berorasi dan membacakan sebuah surat dari Komnas HAM yang dikeluarkan pada Desember 2012 tentang penundaan penggusuran tersebut, Mahasiswa dari BEM UI tersebut juga memblokir jalur kereta dengan mendudukinya.
Sementara itu ratusan penumpang KRL kesal dengan pemblokiran pedagang dan mahasiswa di Stasiun Pondok Cina, Depok. Mereka 'melabrak' massa aksi dan meminta akses dibuka. Sempat terjadi kericuhan dalam kejadian tersebut. Sebagai pengguna KRL Jakarta-Bogor saya juga menyayangkan aksi pemblokiran tersebut karena KRL adalah moda transportasi yang murah dan cepat dibanding jika saya naik bis dari Jakarta-Bogor. Pendapat saya ini mungkin diamini juga oleh pengguna jasa KRL yang lain, mungkin juga oleh mahasiswa yang pragmatis yaitu mahasiswa yang tidak mau terlibat memperjuangkan nasib para pedagang, mahasiswa/i yang hanya fokus pada studinya, kuliah ke perpusatakaan terus pulang sampai dirumah dengan selamat.
Saya tertarik ikut lomba blog yang diadakan oleh ECC UGM ini karena jika menjadi mahasiswa mungkin akan menjadi dilema bagi saya memilih ikut dalam memperjuangkan nasib rakyat kecil dalam hal ini pedagang dengan mengorbankan kuliah saya dan juga mengeluarkan biaya lebih untuk memilih angkutan umum lain, atau saya masa bodoh dengan masalah sosial yang terpenting saya kuliah tepat waktu agar cepat wisuda dan dapat pekerjaan.
Mahasiswa adalah kaum terpelajar, intelektual, calon penerus kepemimpinan bangsa sudah seharusnya menjadi ujung tombak dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat tanpa mengabaikan kuliahnya untuk bekal menuju karir yang sukses dan juga mengharumkan nama bangsa. Dalam salah satu contoh diatas apakah salah jika saya sebagai seorang mahasiswa bersikap pragmatis hanya memikirkan kuliah saya? Atau apakah memang seharusnya mahasiswa ikut demonstrasi?
Demonstrasi yang dilakukan oleh BEM UI diatas memang belum sampai chaos atau anarki tapi setidaknya telah merugikan banyak warga masyarakat kecil yang mengandalkan transportasi KRL Komuter Line yang murah dan cepat untuk mencapai tujuan. Saya mendukung para mahasiswa yang memperjuangkan nasib para pedagang kecil tersebut tapi jangan sampai cara-cara untuk memperjuangkan aspirasinya itu merugikan masyarakat lain.
Mahasiswa yang idealis adalah ujung tombak perubahan bangsa kearah yang lebih baik dan mengkoreksi kebijakan-kebijakan dari rezim yang tidak memihak rakyat, seperti yang tertulis dalam sejarah, para Mahasiswa Indonesia pada tahun 1965-1965 berhasil menggulingkan rezim Orde Lama, Mahasiswa 1998 yang menggulingkan rezim Orde Baru untuk menegakkan Reformasi. Rakyat Indonesia membutuhkan mahasiswa-mahasiswa yang idealis untuk memperjuangkan aspirasi yang murni tanpa ada embel-embel partai dibelakangnya dan tanpa dibayar oleh pihak manapun.
Mahasiswa Pragmatis yaitu mahasiswa yang hanya berorientasi pada studi, kuliahnya agar cepat selesai dan bekerja/berkarier sesuai denagan keahliannya. Rakyat juga membutuhkan mahasiswa seperti ini untuk mengaplikasikan ilmu dan keahlian yang dimilikinya agar kehidupan rakyat bisa lebih sejahtera dan memajukan/mengharumkan nama bangsa negara dalam hal prestasi didunia internasional.
Mahasiswa Indonesia diharapkan bisa berperstasi, memajukan masyarakat agar lebih sejahtera tanpa mengabaikan masalah-masalah sosial yang kadang timbul antara kebijakan pemerintah yang tidak sesuai keinginan rakyat, tetapi dalam memperjuangkan aspirasi murni masyarakat tersebut janganlah dilakukan dengan cara-cara yang merugikan masyarakat lain apalagi sampai bertindak anarki justru akan merugikan rakyat.
Keseimbangan antara sukses menyelesaikan kuliah tanpa harus egois mengabaikan perjuangan aspirasi murni yang memang telah menjadi elemen penting dalam sejarah Indonesia haruslah dijaga. Oleh karena itu rakyat selalu mendukung mahasiswa agar cepat menyelesaikan studinya dan mengaplikasikannya dalam masyarakat serta mahasiswa sebagai ujung tombak untuk mengawal negara dan bangsa kita tercinta ini.
Semoga tulisan ini bermanfaat, terima kasih kepada ECC UGM yang menyelenggarakan lomba blog ini dan atas prestasinya bagi mahasiswa dalam mewujudkan visinya sebagai institusi berbasis IT terdepan di Indonesia untuk bidang informasi karir, personal development, dan recruitment service.
Awal Minggu ini ada pemberitaan yang cukup hangat dibicarakan sebelum terjadinya banjir besar di Jakarta yaitu berita tentang demo BEM Universitas Indonesia yang memblokir Stasiun Pondok Cina, Depok. Demo tersebut untuk menggagalkan penggusuran para pedagang yang ada di Stasiun Pondok Cina, Depok oleh PT. KAI.
Para mahasiswa tersebut menolak penggusuran atas nama rakyat/pedagang kecil yang mempunyai hak untuk mencari rezeki disekitar/dalam stasiun, sementara PT. KAI hendak melaksanakan arahan Presiden, yaitu berupa Perpres No 85 dan UU No 23 Tahun 2011 tentang Peningkatan Mutu dan Pelayanan terhadap Penumpang Kereta. Hal itu dimaksudkan demi terciptanya rasa aman dan nyaman untuk meningkatkan jumlah pengguna kereta di tahun depan.
Selain berorasi dan membacakan sebuah surat dari Komnas HAM yang dikeluarkan pada Desember 2012 tentang penundaan penggusuran tersebut, Mahasiswa dari BEM UI tersebut juga memblokir jalur kereta dengan mendudukinya.
Sementara itu ratusan penumpang KRL kesal dengan pemblokiran pedagang dan mahasiswa di Stasiun Pondok Cina, Depok. Mereka 'melabrak' massa aksi dan meminta akses dibuka. Sempat terjadi kericuhan dalam kejadian tersebut. Sebagai pengguna KRL Jakarta-Bogor saya juga menyayangkan aksi pemblokiran tersebut karena KRL adalah moda transportasi yang murah dan cepat dibanding jika saya naik bis dari Jakarta-Bogor. Pendapat saya ini mungkin diamini juga oleh pengguna jasa KRL yang lain, mungkin juga oleh mahasiswa yang pragmatis yaitu mahasiswa yang tidak mau terlibat memperjuangkan nasib para pedagang, mahasiswa/i yang hanya fokus pada studinya, kuliah ke perpusatakaan terus pulang sampai dirumah dengan selamat.
Saya tertarik ikut lomba blog yang diadakan oleh ECC UGM ini karena jika menjadi mahasiswa mungkin akan menjadi dilema bagi saya memilih ikut dalam memperjuangkan nasib rakyat kecil dalam hal ini pedagang dengan mengorbankan kuliah saya dan juga mengeluarkan biaya lebih untuk memilih angkutan umum lain, atau saya masa bodoh dengan masalah sosial yang terpenting saya kuliah tepat waktu agar cepat wisuda dan dapat pekerjaan.
Mahasiswa adalah kaum terpelajar, intelektual, calon penerus kepemimpinan bangsa sudah seharusnya menjadi ujung tombak dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat tanpa mengabaikan kuliahnya untuk bekal menuju karir yang sukses dan juga mengharumkan nama bangsa. Dalam salah satu contoh diatas apakah salah jika saya sebagai seorang mahasiswa bersikap pragmatis hanya memikirkan kuliah saya? Atau apakah memang seharusnya mahasiswa ikut demonstrasi?
Demonstrasi yang dilakukan oleh BEM UI diatas memang belum sampai chaos atau anarki tapi setidaknya telah merugikan banyak warga masyarakat kecil yang mengandalkan transportasi KRL Komuter Line yang murah dan cepat untuk mencapai tujuan. Saya mendukung para mahasiswa yang memperjuangkan nasib para pedagang kecil tersebut tapi jangan sampai cara-cara untuk memperjuangkan aspirasinya itu merugikan masyarakat lain.
Mahasiswa yang idealis adalah ujung tombak perubahan bangsa kearah yang lebih baik dan mengkoreksi kebijakan-kebijakan dari rezim yang tidak memihak rakyat, seperti yang tertulis dalam sejarah, para Mahasiswa Indonesia pada tahun 1965-1965 berhasil menggulingkan rezim Orde Lama, Mahasiswa 1998 yang menggulingkan rezim Orde Baru untuk menegakkan Reformasi. Rakyat Indonesia membutuhkan mahasiswa-mahasiswa yang idealis untuk memperjuangkan aspirasi yang murni tanpa ada embel-embel partai dibelakangnya dan tanpa dibayar oleh pihak manapun.
Mahasiswa Pragmatis yaitu mahasiswa yang hanya berorientasi pada studi, kuliahnya agar cepat selesai dan bekerja/berkarier sesuai denagan keahliannya. Rakyat juga membutuhkan mahasiswa seperti ini untuk mengaplikasikan ilmu dan keahlian yang dimilikinya agar kehidupan rakyat bisa lebih sejahtera dan memajukan/mengharumkan nama bangsa negara dalam hal prestasi didunia internasional.
Mahasiswa Indonesia diharapkan bisa berperstasi, memajukan masyarakat agar lebih sejahtera tanpa mengabaikan masalah-masalah sosial yang kadang timbul antara kebijakan pemerintah yang tidak sesuai keinginan rakyat, tetapi dalam memperjuangkan aspirasi murni masyarakat tersebut janganlah dilakukan dengan cara-cara yang merugikan masyarakat lain apalagi sampai bertindak anarki justru akan merugikan rakyat.
Keseimbangan antara sukses menyelesaikan kuliah tanpa harus egois mengabaikan perjuangan aspirasi murni yang memang telah menjadi elemen penting dalam sejarah Indonesia haruslah dijaga. Oleh karena itu rakyat selalu mendukung mahasiswa agar cepat menyelesaikan studinya dan mengaplikasikannya dalam masyarakat serta mahasiswa sebagai ujung tombak untuk mengawal negara dan bangsa kita tercinta ini.
Semoga tulisan ini bermanfaat, terima kasih kepada ECC UGM yang menyelenggarakan lomba blog ini dan atas prestasinya bagi mahasiswa dalam mewujudkan visinya sebagai institusi berbasis IT terdepan di Indonesia untuk bidang informasi karir, personal development, dan recruitment service.

